Pindah ke Norway

 

Pernah baca buku “The Secret” yang ditulis Rhonda Byrne? konon katanya buku itu sangat inspiring. Saya ingin juga ceritain lebih lanjut, tapi berhubung saya belum baca dan hanya dapat cerita dari teman saya, jadi saya merasa kurang berhak untuk menceritakannya lagi. Kata teman saya, buku itu bercerita tentang jika kita sangat menginginkan sesuatu pada akhirnya akan tercapai. Waktu teman saya cerita, saya tidak begitu percaya, tapi saya manggut-manggut saja mendengar ceritanya. Cita-cita saya adalah tinggal mandiri di luar negri. Sebenarnya saya sama sekali tidak PD karena merasa diri saya tidak qualified untuk mendapat beasiswa. Bayangkan, mana ada yang mau bayarin sekolah untuk murid tidak berprestasi. Hmmm, talking bout under-estimating yourself.

Suatu pagi jam 4, saya tiba-tiba terbangun dan cek BB warisan dr bapak saya yang berkedip-kedip menandakan ada pesan baru. Saya baca pesan yang ternyata berbentuk email itu, ternyata lamaran beasiswa saya ke Norway lolos di luar dugaan. Mengapa saya bilang di luar dugaan? Ya saya cukup tahu diri dengan nilai-nilai saya jaman masih sekolah. Nilai EBTANAS saya untuk ekonomi cukup 4 saja. Saya sempat mengumpat dalam hati mengapa pihak pemberi sampai minta Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) dan daftar nilai dari jaman SMA sih?ketauan begonya. Alhamdulillah saya lolos.

Setelah menikmati euphoria ‘ternyata-seorang-mira-bisa-dapet-beasiswa-juga’, tibalah waktunya untuk mengurus semua berkas keberangkatan. Sebulan setelah saya terima email pengumuman itu, akhirnya datang juga paket yg ditunggu-tunggu. Bukan, bukan Karak (krupuk beras) kiriman dari pakde di Solo, melainkan berkas admission saya untuk sekolah di Norway. Yay! This is it baby! This is my time to shine!

Ternyata ribetnya birokrasi Indonesia bukan cuma isapan jempol. Kadang saya heran kenapa hal yang mudah dipersulit? Setelah tanya kiri-kanan-atas-bawah, saya dapat info soal prosedur pengurusan visa. Saya harus legalisir akte lahir saya dengan 4 institusi! Astajim, good things always came with a price ya. Akte lahir harus ditranslate terlebih dahulu oleh penerjemah tersumpah, saya waktu itu pakai jasa PPB-UI di Salemba. Setelah 3 hari translate jadi, dan saya harus menunggu 3 hari lagi untuk dilegalisir, baiklah. Setelah itu saya berusaha mencari info dari kedutaan Norway, namun ternyata info tak semudah itu saya dapat dari sana. Setelah di ping-pong, akhirnya saya memperoleh kejelasan bahwasanya selanjutnya translate akte tersebut harus dilegalisir oleh Departemen Hukum dan Ham. Berangkatlah saya kesana dengan berjingkat-jingkat kabur dari kantor saat bos saya lengah. Sesampainya saya disana, saya langsung disambut oleh Pak Satpam yang juga berprofesi sebagai calo. Beliau menawarkan jasanya merampungkan urusan dalam sehari, dengan tariff 1 lembar Rp. 250,000. Hmm, tempting. Tapi sifat kikir saya yang sudah populer diketahui teman-teman saya berkata, tidak! I have to do this on my own. Akhirnya saya menggunakan jalur semestinya, dengan menunggu 3 hari hanya Rp. 25,000 saja. What a triumph.

Berikutnya saya harus legalisir di Departemen Luar Negeri. Lagi-lagi saya berjingkat-jingkat saat bos lengah, kabur ke Deplu. Disana juga butuh waktu 3 hari untuk legalisir. Saya datang lagi untuk mengambil berkas, tapi ternyata saya dipanggil oleh Si Kepala Seksi untuk menghadap. “Emang orangnya suka iseng mba, salah dikit pasti dipanggil”, kata petugas loket. Masuklah saya ke ruangan si Kepsek, doi lagi makan ikan dan nasi merah. Bapak ini lagi jaga kolesterol, batin saya. Beliau menyodorkan formulir permohonan legalisir yang saya isi 3 hari lalu, tanpa berkata apa-apa. Saya gak nyambung, “ini diapain pak?”. “Itu kamu isi formulir aja gak becus, kalo isi formulis mbok ya yang lengkap. Kamu mau S2 di luar negri kok masih goblok gitu,” ujar pak pejabat. Ops my bad, ya jujur saya males isi formulir itu dengan kumplit, tapi saya gak terima dibilang goblok. Saya yang tadinya cengar-cengir ke bapak itu, jadi manyun judes. “Ya maaf pak, tapi jangan kasar gitu dong,” saya terbakar emosi. “Saya dapat beasiswa nih, jadi ga goblok-goblok amat lah,” lanjut saya. Wekekeke, somboooong..!kapan lagi bertingkah sedikit congkak =p. Setelah itu si bapak melunak berkat sikap congkak saya (congkak itu mainan tradisional itu ya? *Itu congklak mirrr!). Bahkan dia memberi rekomendasi airline murah, dan di penghujung pertemuan kami, tidak lupa memberi ucapan selamat dan semoga sukses. Ajip bener ini orang.

Legalisir akte di tangan, tinggal mempersiapkan translate bhs Inggris ijazah pendidikan terakhir dan juga bhs Indonesianya, fotokopi paspor dari halaman muka sampai halaman terakhir (tetap fotokopi walaupun kosong). Sip, it’s ready. Siap untuk apply visa.

Saya sengaja resign dari kerja untuk persiapan diri. Saya memutuskan ikut les academic writing untuk merefresh inggris saya yang  sudah kocar-kacir. Pada suatu hari, seorang londo bernama David, bertanya misi murid-murid kelas academic writing mengikuti kelas tersebut. Pada waktu dia bertanya pada saya, ya saya jawab “I’m going to Norway to study media studies”. Dia tertegun “why on earth you choose Norway to study media? You have the weirdest study destination I have ever heard”. Dasar bule gendeng, biar aja napa si, dapet beasiswanya disitu setelah apply d banyak negara (ketauan deh desperadonya).

Minggu-minggu terakhir menjelang keberangkatan, astaga ga nyangka berat ya. Satu kata yang bias gambarin situasinya “nggantung”. I am good as gone untuk pacar saya (mungkin dia berat saya tinggalin, jadi lebih milih mulai membiasakan diri tanpa saya), teman-teman saya makin gak sabar saya ga pergi2 berhubung saya masih wira-wiri ngerusuhin mereka, duit menipis setelah 2 bulan mengangggur, ortu saya mulai melarang saya kemana-mana (mungkin mulai menyadari bentar lagi kehilangan anak), dan saya gak ada kegiatan. Karena menganggur ini, saya merasa madesu. Bahkan saya mulai nonton sinetron dalam fase ini, they aren’t so bad after all. Kebodohan demi kebodohan terjadi, mo kumur di wastafel malah saya minum (masih di Indonesia woi), mau taruh baju di tempat baju kotor malah ke tempat sampah, mau sikatan pake sabun muka, dll. “Lo stress kyanya Mir menjelang keberangkatan”, teman saya menyimpulkan. Hmm…could be.

 

H-2 badan saya kok ga menampakkan tanda-tanda pulih y. Kerjaan saya ke dokter terus. Saya ke 2 dokter, dan diagnosa mereka beda-beda. Yang satu bilang alergi, satu lagi bilang infeksi. Doeng. Padahal dua-duanya internis. Saya gak bisa tidur selama 2 minggu terakhir. Bah rasanya gak enak. Mungkin itu dampak dari kekhawatiran berlebih karena mau masuk lingkungan baru. Ternyata teman saya yang mau berangkat kesana bersama, juga mengalami gatal-gatal. Jadi kesimpulannya, penyakit psikosomatis.

H-1 kondisi badan ga membaik juga. Bapak saya sampai bilang, ”pesawatnya di cancel aja deh kalo kondisi kamu masih begini”. Saya: ”Yah kan harus beli tiket lagi pak, mahal”. Bapak: ”Ya gapapa, daripada kamu sakit disana”. Terharu….. tapi saya bertekad untuk pergi, malu euy udah pamitan sama banyak orang, masa ga jadi pergi. Gengsi saya yang cukup besar ini tidak mengizinkan untuk meng-cancel flightnya. Tancap habis! Kalo saya mati udah kehendak Tuhan.

 

H. Proses check in yang seharusnya simpel, ternyata ribet sampai bikin sakit perut. Mengingat saya mau pindahan, seakan semua barang saya butuhkan sampai tas saya gemuk kaya sapi abis digelondong. Terus, didenda aja lho kakak karena over weight. Typical Indonesian traveler, barangnya ga pernah dikit. Terpaksa saya rayu-rayu mas-mas counternya, secara saya perayu hambar, pastinya ga sukses. Dari mulai kedip-kedip mata (tapi takut dikira ayan), pasang tampang melas, belaga jadi orang termiskin di dunia, sampe gelendotan towel-towel masnya (no way!). Jadilah saya didenda 1,2 juta. Untung bayar pake duit bokap, kalo pake duit saya langsung mandi kembang 7 rupa untuk buang sial. Sampai ruang boarding, rupanya saya last passenger dan saya ga diperbolehkan masuk, katanya kopernya mesti dikurangin satu. Mampus dah. Seiring dengan ancaman ga boleh masuk pesawat, saya keluarin semua isi koper seperti buku, kamus, jaket. Tetap ga boleh masuk karena koper saya masih terlalu berat, omijot. Kembali saya pasang tampang melas ke supervisor airportnya, bak anak kucing ditingg al induk dan kelaperan kedinginan (lebay). Sukses yes! Akhirnya masuplah saya ke pesawat.

Seiring dengan mau take off-nya pesawat Uni Emirat itu, saya nangis bombai. Nangisnya ga main-main sampai bule di samping saya pindah tempat duduk. Saat-saat ‘terakhir’ seperti ketika itu, membuat saya seperti melihat flash back kenangan saya di Jakarta (ga cuma detik-detik akhir orang mau meninggal saja ternyata flashback itu terjadi). Bye-bye Jakarta, although physically I’m away, but in my heart I’m always here.

Being a newbie it’s never easy for me. Menurut saya, hal yang terpenting yang kita butuhkan dalam memasuki lingkungan baru adalah teman. Saya adalah termasuk orang yang solitare, tapi saya tetap butuh teman untuk menikmati hidup. Saya pikir saya sekarang adalah anak rantau, jadi saya harus punya banyak teman. Tapi ternyata gak gampang ya. Mungkin karena saya berusaha terlalu keras untuk cari teman, alhasil saya jadi orang yg membosankan. Saya gak jadi diri sendiri. Masa saat ada acara kumpul-kumpul international student. Saya ngobrol dengan orang Iran, saya mengajak dia ngobrol soal politik d Iran. Damn it I don’t really care. Dia juga terlihat boring merespon pertanyaan saya, tapi dia tetap bercerita tentang negaranya. Well…I could be that boring when I’m trying too hard.

Untungnya saya punya 2 rekan setanah air, dan 1 teman dari China. Dimana-mana orang asia stick together ya. Tapi masa si saya sudah jauh-jauh ke negeri bule dan gak punya teman orang bule?! But I feel fortunate enough to have them. Paling gak saya terhindar dari bunuh diri karena depresi saat winter nanti.

 

Saat ini saya menilai diri sendiri sebagai anak manja. Ya memang saya di Jakarta hidup nyaman. Tidak pernah masak, cuci piring, cuci baju, ngepel, dll. Kecuali saat pembantu mudik tentu saja. Baru deh, terasa susahnya disini. Rasanya melakukan apapun rasanya mualaaaasss. Sudah hamper 2 minggu saya disini, dan hampir setiap hari saya makan nugget atau sarden kalengan. Mau jadi apa saya makanannya itu. Ada juga otak saya yg gak encer ini kurang nutrisi, madesu deh. Saya sekarang benar-benar merasa harus mandiri, disaat saya sebenarnya belum siap untuk tiba-tiba mandiri. Bermanja-manja di rumah orang tua selama 2 tahun memang terlalu lama.

I wish I could cook. Itu yang terngiang-ngiang di kepala saya setiap sudah waktunya makan. Waktu saya masi di Jakarta, orang-orang banyak yang bilang “nelajar masak dulu gih”. Saya jawab,”ntar juga bisa sendiri”. Yes, I could be that ignorance. Ada juga yang bilang “bawa sambel botol cil”(cil nama panggilan saya di jaman kuliah, kependekan dari kecil). Lagi-lagi omongan mereka tidak saya acuhkan. Menyesalnya sejuta umat, paling gak untuk yang sambel botol itu. So fellow Indonesians, always bring sambel botol with you when travelling abroad!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s